Arsip Tag: fatwa ulama

Puasa 24 Karat Semakin maksimal seorang hamba meninggalkan perbuatan maksiat saat puasa, semakin baik kualitas puasanya, dan tentu semakin sempurna pahalanya

Puasa 24 Karat Semakin maksimal seorang hamba meninggalkan perbuatan maksiat saat puasa, semakin baik kualitas puasanya, dan tentu semakin sempurna pahalanya

emas-batangan

Bila makan dan minum, yang hukum asalnya mubah saja diharamkan bagi orang yang sedang berpuasa, apalagi berdusta, ghibah, bersaksi palsu, mengadu domba, dan perbuatan maksiat lainnya, yang hukum asalnya adalah haram. Tentu lebih diharamkan lagi bagi orang yang sedang puasa.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhori no.1903).

Makna zuur pada hadis di atas adalah perkataan dusta. Yang paling parahnya adalah persaksian palsu, yakni persaksian untuk menindas hak orang lain, atau untuk membenarkan yang keliru. Kemudian “mengamalkannya”, maksudnya melakukan tindakan-tindakan runtutan dari perkataan dustanya. Termasuk dalam hal ini, segala macam perbuatan yang menyimpang dari kebenaran; yakni maksiat. Adapun makna tindakan bodoh di sini, adalah bodoh (tidak peduli) terhadap hak sesama. Seperti iri, hasad, menebar kebencian sesama muslim, dll. (Lihat: Syarah Ahadis As Shiyam min Kitab Bulughul Marom, hal. 120. Karya Syaikh Nashir bin Ibrahim Al ‘Abudi).

Ternyata untuk meraih kesempurnaan puasa, tidak cukup hanya dengan meninggalkan makan dan minum saja. Namun harus ada perjuangan meningalkan perbuatan sia-sia dan maksiat. Yang mana hal-hal tersebut akan merusak pahala puasa. Inilah puncak daripada tujuan disyariatkan puasa dan bentuk puasa yang diinginkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi insan yang bertakwa” (QS. Al- Baqarah: 183).

Bila puasa sekedar menahan lapar dan dahaga saja, semua orang bisa melakukannya. Tidak yang awam, tidak yang sudah tau agama. Bahkan orang-orang non muslim pun mampu. Namun, puasa lahir dan batin; yakni puasa dari makan minum, dan juga dari perbuatan-perbuatan maksiat yang dapat menodai kesucian hati dan merusak pahala puasa, tak semua orang dapat melakukan. Kecuali mereka yang dirahmati Allah ‘azza wa jalla.

Disinilah saudaraku, peluang untuk berlomba-lomba dalam meraih kualitas puasa terbaik. Semakin maksimal seorang hamba meninggalkan perbuatan maksiat saat puasa, semakin baik kualitas puasanya, dan tentu semakin sempurna pahalanya. Dalam Al Quran Allah ‘azza wa jalla selalu memberi motivasi kepada hambaNya dalam hal ini,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al Baqarah: 148).

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bergegaslah kalian kepada ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133)

Apakah Maksiat Membatalkan Puasa?

Ibnu Rojab al Hambali, dalam buku beliau; Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (jilid 1, hal.180) menuliskan sebuah kaidah,

أن المحرم إذا كان محرما لمعنى يختص بالعبادة يفسدها، وإن كان تحريمه عاما لم يفسدها

Larangan yang berhubungan khusus dengan suatu ibadah, maka bila dilakukan, larangan tersebut dapat membatalkan ibadah yang bersangkutan. Adapun suatu larangan yang sifatnya umum (tidak ada hubungan khusus dengan suatu ibadah), maka bila dilakukan tidak membatalkan ibadah.

Seperti puasa, larangan dari makan dan minum ada kaitan khusus dengan ibadah puasa. Karena di luar puasa, makan dan minum dibolehkan. Hanya saat puasa saja, seorang dilarang dari makan dan minum. Maka dari itu, larangan ini bila dilanggar akan membatalkan puasa. Adapun larangan dari perkataan dusta, ghibah, mengadu domba, dan maksiat lainnya, itu tidak ada kaitan khusus dengan puasa. Karena larangan ini diberlakukan umum; baik saat puasa maupun di luar ibadah puasa.

Dari kaidah ini, kita bisa ketahui, bahwa perbuatan maksiat tidak membatalkan puasa, hanya saja akan mengurangi pahala puasa. Apabila dilakukan terus menerus atau semakin banyak, maka akan sampai pada keadaan dimana seorang tidak mendapatkan dari puasanya, selain rasa lapar dan dahaga saja. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam dalam sabda beliau,

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan buah dari puasanya selain rasa lapar. Dan berapa banyak orang yang bangun beribadah di malam hari, namun tidak mendapatkan melainkan sekedar begadang.” (HR. Ibnu Majah).

Semoga Allah memberkahi hari-hari ramadhan kita.

Wallahu ta’ala a’lam.

***
Madinah An-Nabawiyyah, 6 Ramadhan/ 22 Juni 2015

Ditulis oleh: Ahmad Anshori
Artikel: Muslim. Or. Id

Iklan

Fatawa Ulama Ahlus Sunnah Tentang Hukum Nyanyian Sufi & Nasyid Islami

Fatawa Ulama Ahlus Sunnah Tentang Hukum Nyanyian Sufi & Nasyid Islami

musik1-300x273

Sebagaimana kita tidak boleh beribadah melainkan hanya kepada Allah ‘azza wa jalla demi merealisasikan syahadat LA ILAHA ILLALLAH, demikian juga kita tidak boleh beribadah kepada Allah atau mendekatkan diri kepada-Nya, melainkan hanya dengan cara yang diajarkan oleh Rasul-Nya demi merealisasikan syahadat MUHAMMADUR RASULULLAH. Bila dua hal itu direalisasikan oleh seorang Mukmin, berarti ia telah mencintai Allah ‘azza wa jalla dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang mencintai Allah ‘azza wa jalla , maka Allah ‘azza wa jalla akan selalu bersamanya dan Allah ‘azza wa jalla juga akan selalu menolongnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman :

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran/3:31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya Nabi Musa masih hidup, niscaya tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.”

Apabila Nabi Musa ‘alaihis salam yang digelari oleh Allah ‘azza wa jalla sebagai kalimullah saja tidak punya pilihan selain mengikuti Rasulullah apakah selain beliau ‘alaihis salam memiliki pilihan lain ? Ini salah satu di antara dalil tegas yang mewajibkan ittiba’ (mengikuti dan meneladani) Rasulullah , karena itu termasuk konsekuensi syahadat (persaksian) bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah ‘azza wa jalla. Oleh sebab itu, Allah ‘azza wa jalla mewajibkan ittiba’ (mengikuti) hanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, tidak kepada selain beliau. Itiiba’ kepada beliau sebagai tanda kecintaan Allah ‘azza wa jalla terhadap seorang hamba. Dan tidak diragukan lagi, bahwa orang yang
dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla, tentu Allah akan selalu bersamanya dalam segala kondisi.

Jika hal ini telah diketahui, maka kepada saudara-saudara kami yang terfitnah dengan memainkan atau mendengarkan nyanyian sufi, kami berkewajiban mengingatkan dengan hal-hal sebagai berikut :

a. Termasuk perkara yang tidak diragukan dan tidak samar bagi seorang ‘alim pun, dari kalangan Ulama kaum Muslimin yang tahu benar al-Kitab dan as-Sunnah, serta manhaj Salafush Shalih, bahwa nyanyian sufi adalah perkara baru, tidak dikenal pada generasi-generasi yang dipersaksikan kebaikannya (oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
yaitu generasi Sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in).

b. Termasuk perkara yang sudah diterima (perkara pasti) di kalangan Ulama bahwa tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

c. Termasuk perkara yang pasti di kalangan Ulama bahwa tidak boleh mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dengan apa-apa yang tidak disyariatkan oleh Allah ‘azza wa jalla walaupun pada asalnya hal itu disyariatkan. Contohnya: adzan untuk shalat dua hari raga (padahal disyariatkan adzan hanyalah untuk shalat wajib); shalat raghaib; shalawat di saat bersin;[1] dan lain-lain.

Jika hal itu telah diketahui, maka mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dengan perkara yang Allah ‘azza wa jalla haramkan (seperti orang-orang Shufi yang bermain musik untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla!) lebih utama untuk diharamkan, bahkan sangat diharamkan. Karena dalam hal itu terdapat penyelisihan dan penentangan terhadap syariat.

Bahkan nyanyian Shufi termasuk menyerupai orang-orang kafir, dari kalangan Nashara dan lainnya. Oleh karena inilah para Ulama -dahulu dan sekarang- sangat keras mengingkari mereka.[2]

Apabila nasyid tersebut diiringi alat musik,maka hukumnya haram. Adapun jika tanpa diiringi alat musik, maka disini penulis nukilkan fatwa-fatwa para ulama terdahulu dan para ulama abad ini tentang hukumnya:

1. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat th. 795 H)

Beliau berkata, “Mendengarkan kasidah-kasidah yang mengandung (anjuran) untuk zuhud, takut (akan adzab Allah ‘Azza wa jalla), dan kerinduan (kepada-Nya) banyak dilakukan oleh ahlisuluk dan ahli ibadah dan bisa jadi mereka melantunkannya dengan salah satu bentuk nada (irama) demi memperoleh kelembutan hati. Kemudian ada di antara mereka yang memukul-mukul di atas kulit dengan menggunakan tongkat (maksudnya memukul beduk dan yang sepertinya). Mereka menamakan kasidah-kasidah tersebut dengan at-taghbir, padahal sebagian besar Ulama membencinya. Yazid bin Harun berkata, ‘Tidak ada yang memainkan taghbirkecuali orang fasik.’

Lantas kapankah taghbir itu mulai muncul? Dalam riwayat shahih dari Imam asy-Syafi’i dari riwayat al-Hasan bin ‘Abdul ‘Aziz al Jarwi dan Yunus bin ‘Abdul A’la bahwa beliau (Imam asy-Syafi’i) berkata, ‘Aku meninggalkan sesuatu di Irak yang mereka sebut-sebut dengan at-taghbir, hasil buatan orang-orang zindiq (munafik). Dengannya mereka menghalangi manusia dari al-Qur-an.’ Imam Ahmad rahimahullah juga membencinya dan berkata, ‘ (Taghbir) itu bid’ah dan diada-adakan.’ Dikatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya ia dapat melembutkan hati,’ beliau rahimahullah menjawab, ‘Bid’ah.”‘ [3]

Beliau juga berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dengan mendengarkan nyanyian yang dilagukan apalagi diiringi alat musik merupakan salah satu hal yang diketahui secara pasti dari agama Islam bahkan dari seluruh syariat para Rasul bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dan tidak termasuk sesuatu yang dapat mensucikan hati dan membersihkannya. Karena, Allah ‘azza wa jalla telah mensyariatkan melalui lisan para Rasul-Nya segala apa yang dapat mensucikan jiwa dan membersihkannya dari segala kotoran dan bahayanya.”[4]

2. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah
Beliau rahimahullah berkata, “Telah mutawatir dari Imam asy-Syafi’i rahimahullah beliau berkata :

“Ketika aku meninggalkan Iraq, disana muncul sesuatu yang disebut taghbir, dibuat oleh orang-orang zindiq, untuk menghalangi kaum Muslimin dari al-Qur’an.”

Taghbir adalah syair yag mengajak untuk mencintai dunia, dilantunkan oleh seorang penyanyi, lalu sebagian hadirin memukul-mukul permadani atau bantal dengan menggunakan tongkat menirukan irama nyanyiannya. Taghbir ini mengandung segala macam kerusakan dan mengumpulkan segala yang haram, maka janganlah Anda terfitnah dengan orang alim yang jahat dan seorang ahli ibadah yang bodoh. Maka kalau Anda melihat kerusakan yang masuk ke tubuh umat Islam, maka disebabkan oleh dua golongan orang ini (orang alim yang jahat dan ahli ibadah yang bodoh).[5]

3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah
Beliau rahimahullah berkata, “Apa yang disebutkan oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah bahwa perbuatan itu adalah hasil ciptaan para zindiq (dan ucapan itu) berasal dari seorang imam yang ahli dalam ilmu ushul Islam. Karena pada dasarnya, tidak ada yang mempropagandakan dan menganjurkan nyanyian selain orang-orang zindiq, seperti Ibnu Rawandi, al-Farab, Ibnu Sina, dan yang semisal mereka, sebagaimana yang disebutkan oleh Abdurrahman as-Sulau dalam Mas’alah as-Sama’ dari Ibnu Rawandi .[6]

4. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani

Beliau menyatakan dalam ceramah yang direkam dalam kaset, dengan judul Hukum Nasyid Islami. Beliau menuturkan, “Sudah saatnya bagi dunia Islam untuk bangkit dari kelalaian dan tidur panjang untuk kembali kepada Islam, selangkah demi selangkah. Sudah saatnya bagi orang-orang yang berkepentingan untuk menyadari bahwa ada sekian banyak hukum yang bertentangan dengan syariat, yang diambil, disahkan dan diterapkan oleh mereka, yang mereka namai dengan nama yang bukan berasal dari syariat. Kita harus menyadari hakikat ini, berupa perubahan akibat karena perubahan nama, diantaranya apa yang dinamakan dengan nasyid Islami.

Selama empat belas abad tidak pernah ditemukan nasyid-nasyid yang kemudian disebut dengan nasyid Islami. Ini merupakan perkara baru yang diada-adakan pada zaman sekarang karena mengikuti satu dua orang yang pernah muncul sepanjang beberapa abad yang lampau, namun tidak lepas dari pengingkaran para pemuka Ulama, yaitu apa yang disebut dengan lagu-lagu shufi yang biasa dilantunkan dalam majelis-majelis mereka, yang mereka sebut dengan majelis zikir… Sedangkan pada zaman sekarang ini nasyid-nasyid itu menggantikan posisi lagu-lagu yang biasa dilantunkan orang-orang Shufi, yang ternyata mereka mendapat serangan gencar dari para Ulama. Bahkan serangan ini tampak semakin gencar pada zaman sekarang, sampai akhirnya suara orang-orang Shufi tidak lagi terdengar…” [7]

5. Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin
Beliau mengatakan, “Nasyid Islami merupakan nasyid yang diada-adakan, yang pernah dibuat oleh orang-orang shufi. Karena itu, nasyid tersebut harus ditinggalkan lalu beralih kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, kecuali jika sedang berada di medan perang untuk membakar semangat jihad di jalan Allah maka hal itu bagus. Jika nasyid itu disertai tabuhan rebana atau gendang, maka ia menjadi jauh dari kebenaran.” [8]

Beliau rahimahullah juga pernah ditanya dengan pertanyaan yang berbunyi, “Saya mohon penjelasan dalam masalah nasyid -nasyid Islami yang dijual oleh dapur rekaman- dan hukum membelinya?

Beliau rahimahullah menjawab, “Saya berikankepada Anda kaidah umum :
a. Apabila nasyid itu diiringi dengan rebana maka hukumnya haram, karena rebana tidak boleh (dimainkan) kecuali pada waktu tertentu tidak untuk setiap waktu. Dan lebih haram lagi jika diiringi dengan alat musik atau gendang (bedug).
b. Apabila tidak diiringi alat musik maka kita lihat, apakah nasyid itu dinyanyikan seperti lagu-lagu yang tidak senonoh ? Maka yang seperti ini pun tidak boleh.
c. Apabila nasyid ini dinyanyikan oleh para pemudi yang suara mereka menggerakkan syahwat atau orang lain menikmati suaranya tanpa memperhatikan kandungan dari syair itu sendiri, maka ini pun tidak diperbolehkan. [9]

6. Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah
.Beliau hafizhahullah menyatakan dalam al Khuthab al-Mimbariyyah (111/184-185) yang isinya sebagai berikut :
“Yang perlu diwaspadai ialah maraknya peredaran kaset-kaset nasyid di kalangan remaja aktivis agama, yang dibawakan beberapa orang penyanyi, yang mereka sebut dengan istilah “Nasyid Islami”, yang pada dasarnya sama dengan lagu-lagu yang banyak beredar. Bahkan adakalanya dibawakan dengan suara yang menggoda, yang dijual di tempat-tempat penjualan kaset-kaset bacaan al-Qur’an dan ceramah agama.

Penamaan nasyid-nasyid ini dengan sebutan “nasyid Islami” merupakan penamaan yang keliru karena Islam tidak mensyariatkan nasyid-nasyid itu kepada kita, tetapi Dia mensyariatkan berzikir kepada-Nya, membaca al-Qur’an, dan mempelajari ilmu yang bermanfaat. Adapun nasyid-nasyid itu berasal dari agama orang-orang shufi yang memang biasa berbuat bid’ah, yang menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau. Menjadikan nasyid sebagai bagian dari agama mirip dengan perbuatan orang-orang Nasrani, yang menjadikan agama mereka berupa nyanyian-nyanyian yang dibawakan secara berbarengan. Yang harus dilakukan ialah justru mewaspadai nasyid-nasyid tersebut, melarang penjualan dan peredarannya karena nasyid-nasyid itu mendatangkan cobaan bagi orang yang selama ini penuh dengan semangat. [10]

7. Syaikh Ahmad bin Yahya bin Muhammad an-Najmi
Beliau menyatakan, “Saya tidak menganggap mendengarkan sya’ir itu adalah haram, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendengarkannya. Tetapi, orang-orang pada zaman sekarang mengikuti jalan orang-orang shufi dalam masalah nasyid ini, yang katanya untuk membangkitkan hati.

Ibnul Jauzi menyebutkan dalam kitabnya, Naqdul ‘Ilmi wal ‘Ulama (hlm. 230) pernyataan Imam asy-Syafi’i, “Aku meninggalkan sesuatu di. Irak, yang diada-adakan oleh orang-orang zindiq. Mereka membuat orang-orang sibuk dengannya dan meninggalkan al-Qur’an, yang mereka sebut dengan istilah at-taghbir.”

Ibnul Jauzi menyatakan, Abu Manshur al-Azhari menyatakan bahwa al mughbirah adalah orang-orang yang berzikir
kepada Allah ‘azza wa jalla  dengan doa dan wirid. Mereka menyebut sya’ir yang berupa dzikir kepada Allah ‘azza wa jalla itu dengan nama at-taghbir. Seakan-akan jika mereka melantunkan sya’ir-sya’ir itu, maka mereka layak disebut mughbirah berdasarkan makna ini.

Menurut al-Zajjaj, mereka dinamakan mughbirah untuk mendorong manusia untuk hidup zuhud di dunia dan menginginkan akhirat.

Saya katakan, ‘Urusan orang-orang shufi itu memang aneh. Mereka menganggap bahwa mereka menyuruh manusia hidup zuhud di dunia dengan nyanyian, mereka menginginkan akhirat dengan nyanyian pula. Apakah nyanyian itu menjadi sebab zuhud di dunia dan keinginan terhadap akhirat, atau hakikatnya adalah kebalikannya.

Saya tidak ragu dan siapa pun yang mengenal Allah dan Rasul-Nya tidak ragu bahwa nyanyian itu tidak membangkitkan kecuali: keinginan terhadap dunia dan menghindari akhirat, merusak akhlak dan ilmu. Jika mereka memaksudkan untuk akhirat berarti itu merupakan ibadah. Suatu ibadah yang tidak disyariatkar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berarti bid’ah. Kesimpulannya nasyid adalah bid’ah.”[11]

8. Syaikh ShaIih bin AbduI ‘Aziz AaIu Syaikh hafizhahullah
Beliau mengatakan, “Mendengarkan lagu-lagu yang diiringi tabuhan alat musik dan kasidah, kasidah zuhud, sama dengan sebutan at-taghbir yang mirip dengan tabuhan rebana atau gendang dari kulit, yang di sana dilantunkan kasidah-kasidah zuhud seperti yang dilakukan segolongan orang shufi yang menganjurkan kepada akhirat dan menghindari kehidupan dunia.

Para ulama mengingkari at-taghbir ini dan mereka menolak untuk mendengarkan kasidah kasidah yang dilagukan karena itu merupakan bid’ah. Lirik yang digunakan orang-orang shufi mirip dengan lagu. Para Ulama menganggapnya sebagai bid’ah yang baru. Keberadaannya sebagai bid’ah sangat jelas sekali karena tujuan pembuatan lirik-lirik itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal sebagaimana yang diketahui, taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah tidak boleh dilakukan kecuali dengan cara yang disyari’atkan-Nya. Kasidah-kasisah ini juga sama dengan kasidah-kasidah yang disampaikan pada masa dahulu, yang kemudian disegarkan oleh orang-orang shufi pada masa sekarang. Ini merupakan bid’ah baru, dan hati manusia tidak boleh condong kepadanya.” [12]

9. Syaikh Bakr Abu Zaid
Beliau berkata, “Yang perlu kami sampaikan di  sini bahwa zikir dan doa dengan berlagu, dengan lirik yang disertai tabuhan alat musik, melantunkan sya’ir, tepuk tangan, semua itu merupakan perbuatan bid’ah yang sangat menjijikkan dan perbuatan yang buruk, lebih  buruk daripada berbagai jenis pelanggaran dalam berdoa dan berzikir. Siapa pun yang melakukan itu atau sebagian diantaranya harus segera melepaskan diri darinya, tidak membuat dirinya tunduk kepada hawa nafsu dan bisikan setan. Siapa pun yang melihat sebagian dari hal-hal itu harus mengingkarinya. Siapa pun diantara kaum Muslimin yang memiliki kekuatan harus mencegahnya, mencela pelakunya, dan meluruskannya.” [13]

10. Imam IbnuI Jauzi    (wafat th. 597 H).
Beliau mengatakan, “Telah berkata para ahli fiqih dari Sahabat-Sahabat kami bahwa persaksian penyanyi dan penari tidak boleh diterima. Wallahul muwaffiq.”[14]

11.Imam al-Hafizh Abu ‘Amr Ibnus Shalah (wafat th. 643 H).
Beliau ditanya tentang orang-orang yang menghalalkan nyanyian dengan rebana dan seruling, dengan tarian dan tepuk tangan, serta mereka menganggapnya sebagai perkara halal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, bahkan sebagai ibadah yang paling utama. Beliau berkata, “Mereka telah berdusta atas nama Allah, dengan pendapat  tersebut mereka telah mengiringi orang-orang kebatinan yang menyimpang. Mereka juga telah menyelisihi ijma’ (kesepakatan), sedangkan barangsiapa menyelisihi ijma’ terkena ancaman dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

“Dan barangsiapa menentan Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mukmin, Kami biarkan di dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS.an-Nisa’/4:115). [15]

Bersambung insyaallah..

Foot Note:

[1] Contoh yang beliau bawakan untuk menunjukkan tidak boleh kita mengadakan adzan pada shalat ‘Iedain (dua hari raya), tidak boleh shalat radhaib pada bulan Rajab, dab tidak boleh shalawat pada saat bersin karena semua ini tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[2] Tahrimu Alatit Tharb (hal.158-163) dengan ringkas. Karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

[3]  Majmu’ Rasail Ibni Rajab (Nuzhatul Asma’)’ (II/463)

[4]  Majmu’ Rasail Ibni Rajab (Nuzhatul Asma’)’ (II/462)

[5]  Diringkas dari Ighatsatul Lahafan (1/416-417), Imam Ibnul Qayyim, tahqiq: Syaikh Ali Hasan al-Halabi.

[6] Majmu’ Fatawa (11/570).

[7] Lihat al-Qaulul Mufid fii Hukmil Anasyid(hlm.31-32)

[8] Fatawa al-’Aqidah (hlm. 651, no. 369). Dinukil dari al-Qaulul Mufid fii Hukmil Anasyid (hlm. 40)

[9] Silsilah Liqa-at Babil Maftuh, al-Maktabah ash-Shautiyyah, kaset (no. 111-wajah kedua) yang ditandatangani oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin. Dinukil dari ar-Radd ‘alal Qardhawi wal Judai’i (hlm. 586) karya Syaikh ‘Abdullah bin Ramadhan bin Musa.

[10] Lihat al-Qaulul Mufld fii Hukmil Anasyid (hlm. 37-38)

[11] 11 al-Mauridul ‘Adzbuz Zulal fiima untuqida ‘ala Ba’dhi Manahiji ad-Da’awiyyah minal ‘Aqd-idi wal A’mal (hlm. 223).

[12] Dinukil dari al-Qaulul Mufid fii Hukmil Anasyid (hlm. 44).

[13] ash-Hihud Du’a (hlm. 78).

[14] Talbis Iblis (h1m. 237) dan al-Muntaqan Nafis (hlm. 302).

[15] Fatawa Ibnish Shalat (hal.300-301. Dinukil dari Tahrim Alatith Tharb (hal.170]

Sumber:

Majalah as Sunnah Edisi 07/THN XVI/Dzhulhijjah 1433H/November 2012M

http://alqiyamah.wordpress.com