Berdo’alah Kepada-Ku Niscaya Aku Akan Kabulkan!

Berdo’alah Kepada-Ku Niscaya Aku Akan Kabulkan!

https://i2.wp.com/griyatilawah.com/wp-content/uploads/2013/01/adab-doa.jpg

بسم الله الرحمن الرحيم

Berdo’a dan memohon kepada Allah adalah sifat hamba-hamba-Nya yang shaleh dan dengannya mereka dipuji dalam banyak ayat al-Qur-an.

Allah berfirman:

{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ}

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka (selalu) berdo’a kepada Kami dengan berharap dan takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ (dalam beribadah)” (QS al-Anbiyaa’: 90).

Dalam ayat lain, Allah memuji hamba-hamba-Nya yang shaleh dalam firman-Nya:

{تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ}

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (karena mereka selalu mengerjakan ibadah dan shalat ketika manusia sedang tertidur di malam hari), sedang mereka berdo’a kepada Allah dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka” (QS as-Sajdah: 16).

Allah juga berfirman tentang sifat-sifat ‘ibadur Rahman (hamba-hamba Allah yang maha pemurah):

{وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا. وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا}

“Dan mereka adalah orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan beribadah kepada Rabb mereka (Allah ). Dan mereka berdo’a: “Ya Rabb kami, jauhkan kami dari azab (neraka) Jahannam, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal” (QS al-Furqaan: 64-65).

Mereka selalu berdo’a kepada Allah karena mereka mengetahui dan meyakini bahwa semua kebaikan dunia dan akhirat ada di tangan-Nya, semua kebutuhan manusia hanya Dia-lah yang maha kuasa memenuhinya, serta semua keburukan yang ditakutkan menimpa mereka hanya Dia yang maha mampu mencegahnya. Maka dengan keyakinan ini, mereka selalu berdo’a dan memohon kepada Allah di semua waktu dan keadaan, karena kunci untuk membuka pintu-pintu kebaikan yang ada di tangan Allah adalah dengan sungguh-sungguh memohon dan meminta kepada-Nya.

Imam Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhiir berkata: “Aku mengingat-ingat apakah penghimpun segala kebaikan, karena kebaikan itu banyak; puasa, shalat (dan lain-lain). Semua kebaikan itu ada di tangan Allah , maka jika kamu tidak mampu (memiliki) apa yang ada di tangan Allah kecuali dengan memohon kepada-Nya agar Dia memberikan semua itu kepadamu, maka berarti penghimpun (semua) kebaikan adalah berdo’a (kepada Allah )”[1].

Senada dengan ucapan di atas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya berdo’a (kepada Allah ) adalah kunci (pembuka) segala kebaikan”[2].

 

Agungnya kedudukan do’a

Kedudukan do’a dalam Islam sangat agung, keutamaannya sangat besar dan kemuliaannya sangat tinggi, karena do’a merupakan ibadah yang paling agung dan ketaatan yang paling tinggi. Oleh karena itu, banyak ayat al-Qur-an dan hadits Rasulullah yang menjelaskan kedudukannya yang agung dan tinggi, serta keutamaan yang besar bagi orang yang selalu mengerjakannya[3].

Allah berfirman:

{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ}

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS al-Mu’min: 60).

Dalam sebuah hadits yang shahih, dari an-Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah bersabda: “Berdo’a adalah ibadah”, lalu beliau membaca ayat di atas[4]. Maka maksud ibadah dalam ayat di atas adalah berdo’a kepada Allah .

Ayat yang mulia ini menunjukkan agungnya karunia dan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, karena Dia memotivasi mereka untuk selalu berdo’a kepada-Nya, yang itu merupakan kunci kebaikan diri mereka di dunia dan akhirat, dan Dia menjanjikan pengabulan do’a mereka.

Bahkan di akhir ayat ini, Allah memberikan ancaman keras bagi orang yang menyombongkan diri dan berpaling dari berdo’a kepada-Nya[5]. Inilah makna sabda Rasulullah : “Sesungguhnya barangsiapa yang enggan untuk memohon kepada Allah maka Dia akan murka kepadanya”[6].

Kalau kita renungkan dengan seksama ayat yang mulia ini, kita akan dapati isyarat makna agung sehubungan dengan mulianya kedudukan berdo’a kepada Allah , yaitu bahwa orang yang paling dicintai Allah adalah orang selalu berdo’a dan memohon kepada-Nya, sebagaimana orang yang enggan berdo’a kepada-Nya maka dialah yang paling dibenci dan dimurkai-Nya.

Makna ini yang diungkapkan oleh Imam Sufyan ats-Tsauri dalam ucapan beliau: “Wahai (Dzat) yang (menjadikan) hamba yang paling dicintai-Nya adalah yang berdo’a dan banyak memohon kepada-Nya. Wahai (Dzat) yang (menjadikan) hamba yang paling dibenci-Nya adalah hamba yang tidak mau berdo’a kepada-Nya. Tidak ada satupun yang bersifat seperti itu selain-Mu, wahai Rabb-ku”[7].

Oleh karena itu, taufik dari Allah yang merupakan sebab utama tercurahnya semua kebaikan dunia dan akhirat bagi seorang hamba, kunci utama untuk mendapatkannya adalah berdo’a dengan sungguh-sungguh dan memperlihatkan rasa butuh yang sangat kepada Allah .

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Kalau semua kebaikan asalnya (dengan) taufik yang itu adanya di tangan Allah (semata) dan bukan di tangan manusia, maka kunci (untuk membuka pintu) taufik adalah (selalu) berdo’a, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, (selalu) berharap dan takut (kepada-Nya). Maka ketika Allah telah memberikan kunci (taufik) ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan (pintu taufik) kepadanya. Dan ketika Allah memalingkan kunci (taufik) ini dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan (taufik) akan selalu tertutup baginya”[8].

Bahkan lebih dari itu, berdo’a kepada Allah dengan merendahkan diri dan menampakkan rasa butuh kepada-nya merupakan wujud al-‘ubudiyah (penghambaan diri) seorang hamba kepada Allah, sekaligus merupakan pengakuan terhadap agungnya sifat rububiyah Allah (menciptakan dan mengatur alam semesta beserta isinya) serta sifat-sifat kesempurnaan-Nya yang lain.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berdo’a dan memohon kepada-Nya untuk menampakkan kedudukan al-‘ubudiyah (penghambaan diri), kebutuhan dan ketergantungan (hamba tersebut kepada Allah ), serta dalam rangka pengakuan agungnya (sifat) rububiyah (menciptakan dan mengatur alam semesta beserta isinya), sempurna kemahakayaan dan kemahaesaan-Nya dalam (melimpahkan) karunia dan kebaikan (kepada hamba-hamba-Nya), dan bahwa sungguh seorang hamba tidak akan bisa terlepas dari kebutuhan kepada (limpahan) karunia-Nya meskipun (hanya) sekejap mata”[9].

Maka berdo’a kepada Allah dengan memperlihatkan ketundukkan dan ketergantungan kepada-Nya adalah sebab perhatian dan pemuliaan Allah kepada hamba-hamba-Nya[10], sebagaimana dalam firman-Nya:

{قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلا دُعَاؤُكُمْفَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا}

“Katakanlah: “Rabbku tidak mengindahkan kamu, kalau kamu tidak berdo’a (dan beribadah kepada-Nya). (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya, karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)” (QS al-Furqaan: 77).

Dalam hadits-hadits lain, Rasulullah bersabda tentang agungnya kedudukan do’a:

– Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas bahwa Rasulullah bersabda: “seutama-utama ibadah adalah berdo’a”[11].

– dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak ada sesuatupun yang lebih mulia bagi Allah daripada do’a”[12].

Semua dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa do’a adalah ibadah yang paling utama, bahkan merupakan asas dan ruh ibadah. Hal ini disebabkan adanya beberapa keistimewaan yang terdapat di dalam do’a, di antaranya:

  1. Sesungguhnya di dalam doa terdapat sikap merendahkan diri, memperlihatkan kebutuhan dan ketergantungan kepada Allah .
  2. sesungguhnya ibadah akan semakin sempurna dan tinggi keutamaannya ketika hati semakin khusyu’ dan pikiran semakin fokus, sedangkan do’a merupakan ibadah yang paling dekat untuk meraih tujuan agung ini, karena kebutuhan dan ketergantungan seorang hamba akan menjadikan hatinya lebih khusyu’ dan fokus.
  3. Sesungguhnya do’a mengandung konsekwensi sifat tawakal (penyandaran hati yang benar kepada Allah untuk meraih kebaikan dan mencegah keburukan) dan memohon pertolongan kepada Allah , yang keduanya merupakan ruh ibadah dan ketaatan kepada Allah [13].

 

Makna do’a dan macamnya

Secara bahasa, do’a berarti mencondongkan (memalingkan) sesuatu kepadamu dengan suara dan ucapan darimu[14].

Adapun secara syar’i, berdoa adalah bermunajat (berucap dengan suara yang pelan) kepada Allah dengan menyeru-Nya untuk memohon sesuatu (kebaikan) dan menolak sesuatu (keburukan)[15].

Atau makna yang lebih lengkap: menyeru kepada Allah dengan ucapan yang mengandung permohonan dan sanjungan kepada-Nya dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna[16].

Para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah membagi do’a menjadi 2 macam[17]:

1. Do’a permohonan, inilah macam do’a yang sedang kita bahas dalam tulisan ini.

2. Do’a ibadah dan sanjungan, yang ini meliputi semua jenis ibadah yang disyariatkan dalam Islam, lahir dan batin. Misalnya: shalat, puasa, berdzikir, berkurban, takut, berharap, bertawakal, mencintai dan ibadah-ibadah lainnya[18].

Dalam hadits shahih yang telah kami sebutkan di atas, Rasulullah bersabda: “Berdo’a adalah ibadah”[19].

Hadits ini menunjukkan bahwa do’a adalah ibadah agung yang merupakan hak Allah yang murni, dan ini mencakup dua macam do’a yang tersebut di atas. Maka memalingkan ibadah ini kepada selain Allah atau menyekutukan Allah dengan makhluk di dalamnya adalah termasuk perbuatan syirik besar yang menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam yang mulia ini, na’uudzu billahi min dzaalik.

Allah berfirman:

{وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ}

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali hanya untuk menyembah Ilah (sembahan yang benar, Allah ) Yang Maha Esa; tidak ada Ilah (sembahan yang benar) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS at-taubah: 31).

Dalam ayat lain, Dia juga berfirman:

{قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا}

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya berdo’a (beribadah) kepada Rabb-ku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya” (QS al-Jinn: 20).

Dan ayat-ayat lain dalam al-Qur-an yang menjelaskan larangan keras memalingkan do’a kepada selain Allah atau menyekutukan Allah dengan makhluk di dalamnya. Ayat-ayat tersebut sangat banyak dan beragam kandungannya, untuk menggambarkan besarnya keburukan perbuatan syirik ini dan sangat kerasnya ancaman bagi yang melakukannya, wal’iyaadzu billah. Sampai-sampai salah seorang ulama Ahlu sunnah berkata: “Kita tidak mengetahui jenis kekufuran dan kemurtadan yang disebutkan dalam dalil-dalil (dari al-Qur-an dan hadits Rasulullah ) seperti (keburukan) yang disebutkan (dalam dalil-dalil tersebut) tentang berdo’a kepada selain Allah, berupa larangan (yang keras) dari perbuatan tersebut, peringatan untuk menjauhinya, dan ancaman (keras) bagi yang melakukannya”[20].

 

Makna dan hakikat pengabulan do’a

Dalam ayat-ayat al-Qur-an dan hadits-hadits Rasulullah , Allah selalu menjanjikan pengabulan doa bagi hamba-hamba yang berdo’a kepada-Nya. Di antaranya:

– Firman Allah :

{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ}

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS al-Mu’min: 60).

– Firman-Nya:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ، فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ}

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku maha dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS al-Baqarah: 186).

– Sabda Rasulullah :

« يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِى فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِى فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِى فَأَغْفِرَ لَهُ »

Rabb kita (Allah) turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, Dia berfirman: “Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memenuhi (permintaan)nya, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya”[21].

– Sabda Rasulullah :

« إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »

“Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa”[22].

Semua dalil di atas jelas menunjukkan bahwa Allah akan mengabulkan do’a hamba-hamba-Nya dan tidak akan menolak permohonan orang-orang yang memohon kepada-Nya. Ini adalah janji Allah yang pasti benar dan tidak mungkin diingkari-Nya.

Akan tetapi, dari keterangan di atas timbul satu permasalahan, yaitu: banyak orang yang berdo’a kepada Allah , di antara mereka ada orang-orang shaleh dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a kepada-Nya, tapi permohonan yang mereka panjatkan tidak dipenuhi-Nya, mengapa demikian?[23]

Untuk menjawab permasalahan di atas, para ulama memaparkan beberapa jawaban, yang terbaik di antaranya ada dua jawaban:

  1. Jawaban yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani: “Sesungguhnya pengabulan do’a itu bermacam-macam (bentuknya). Terkadang permohonan yang diminta itu dikabulkan dengan segera, atau dikabulkan tapi tertunda karena hikmah tertentu (dari Allah ). Terkadang juga do’a itu dikabulkan tapi (wujudnya) bukan dengan permohonan yang diminta (hamba tersebut), karena (Allah maha mengetahui bahwa) pada permohonan yang diminta itu tidak ada kebaikan yang nyata (bagi hamba tersebut), sementara pada pengganti (yang Allah berikan itu) justru kebaikannya nyata atau lebih besar dari permohonan yang dimintanya”[24].

Di tempat lain, beliau berkata: “Sesungguhnya semua orang yang berdo’a (kepada Allah) akan dikabulkan baginya, akan tetapi pengabulan tersebut bermacam-macam (bentuknya). Terkadang dikabulkan permohonan yang dimintanya, atau terkadang (dikabulkan) dengan pengganti (yang lebih baik baginya)”[25].

Jawaban Imam Ibnu Hajar ini sangat sesuai dengan makna hadits Rasulullah berikut:

Dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun yang berdo’a (kepada Allah ) dengan permohonan yang tidak mengandung dosa (maksiat) atau pemutuskan hubungan silaturahim (hubungan baik dengan keluarga/kerabat), kecuali Allah akan memberikan untuknya dengan do’a tersebut salah satu dari tiga (perkara); bisa jadi disegerakan (pengabulan) permohonannya, atau Allah akan menyimpannya (untuk kebaikan) baginya di akhirat, atau Allah akan memalingkan darinya keburukan yang sebanding dengan do’a tersebut”[26].

  1. Pengabulan do’a dan permohanan hamba yang berdo’a adalah janji dari Allah dan Allah pasti memenuhi janji-Nya. Akan tetapi janji Allah ini hanya akan dipenuhi-Nya bagi orang-orang yang melakukan syarat-syarat yang Allah jelaskan dalam syariat-Nya agar terkabulnya doa tersebut. Hal ini sama dengan amal-amal shaleh dalam Islam yang Allah janjikan bagi hamba-Nya yang mengerjakannya untuk diterima-Nya dan meraih pahala yang sempurna di sisi-Nya.

Maka do’a merupakan sebab untuk meraih apa yang diinginkan seorang hamba, akan tetapi setiap sebab memiliki syarat-syarat dan penghalang-penghalang untuk tercapainya maksud yang diinginkan. Kalau syarat-syarat tersebut terpenuhi dan penghalang-penghalangnya bisa dihilangkan, maka akan tercapai maksud yang diinginkan, dengan izin Allah . Tapi sebaliknya, kalau ada syarat yang tidak terpenuhi atau penghalang yang belum dihilangkan, maka maksud yang diinginkan tidak tercapai. Dan ini berlaku untuk semua amal-amal shaleh dan ketaatan kepada Allah yang disyariatkan dalam Islam[27].

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya do’a termasuk sebab yang paling kuat untuk menolak keburukan dan meraih (kebaikan) yang diinginkan. Akan tetapi terkadang pengaruh (hasil dari) do’a tidak tercapai, mungkin karena kelemahan (kesalahan) pada do’a itu sendiri, (misalnya) do’a (yang isinya) dibenci oleh Allah karena melampaui batas. Atau karena lemahnya (keyakinan dalam) hati dan tidak tertujunya kepada Allah secara utuh sewaktu berdo’a. Maka do’a ini ibaratnya seperti busur panah yang (talinya) sangat kendor, sehingga anak panah yang dilepaskanpun keluarnya sangat lemah.

Atau mungkin (juga) karena adanya penghalang (yang menghalangi) terkabulnya (do’a tersebut), seperti (mengkonsumsi) makanan yang haram, berbuat zhalim (aniaya), hitamnya dosa yang menutupi hati, serta kelalaian dan syahwat yang mendominasi dan menguasai hati…Maka berdo’a adalah obat yang mujarab untuk menghilangkan penyakit, akan tetapi kelalaian hati dari (mengingat) Allah (inilah yang) melemahkan kekuatan do’a tersebut. Demikian pula (mengkonsumsi) makanan yang haram akan merusak dan melemahkan kekuatannya”[28].

Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata: “Barangsiapa yang berdo’a kepada Allah dengan hati yang hadir (khusyu’), do’a yang sesuai dengan syariat, dan tidak ada penghalang yang menghalangi pengabulan do’anya, seperti (mengkonsumsi) makanan yang haram atau yang lainnya, maka sungguh Allah telah menjanjikan pengabulan (do’a) baginya. Khusunya kalau dia melakukan sebab-sebab pengabulan do’a, yaitu memenuhi (seruan) Allah , dengan menetapi segala perintah-Nya dan (menjauhi) semua larangan-Nya, baik dalam ucapan maupun perbuatan dan beriman kepada-Nya, yang ini merupakan sebab pengabulan (do’a). Oleh karena itu, Allah berfirman:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ، فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ}

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku maha dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS al-Baqarah: 186)[29].

 

Beberapa syarat dan penghalang terkabulnya do’a

1- Melampaui batas dalam berdo’a.

Allah berfirman:

{ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ}

“Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS al-A’raaf: 55).

Ayat ini menunjukkan larangan dan celaan perbuatan melampaui batas dan ini berlaku umum mencakup semua masalah. Akan tetapi, karena dalam ayat ini, larangan tersebut Allah sebutkan setelah perintah untuk berdo’a kepada-Nya, maka ini secara khusus menunjukkan larangan keras dan celaan perbuatan melampaui batas dalam berdo’a, dan bahwa do’a yang mengandung sikap melampaui batas tidak dicintai dan diridhai Allah [30].

Dalam hal ini, Ibnu ‘Abbas berkata: “(Ini berlaku) pada do’a dan selain do’a”[31].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ada yang mengatakan bahwa maksud ayat ini: sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas dalam berdo’a, seperti orang yang meminta (dalam do’anya) sesuatu yang tidak pantas, seperti (meminta) kedudukan para Nabi u dan lain-lain”[32].

Melampaui batas dalam berdo’a bermacam-macam bentuknya dan bertingkat-tingkat hukumnya, ada yang sampai pada tingkatan kufur dan syirik, juga ada yang di bawah itu. Yang jelas, semua perbuatan yang menyelisihi petunjuk al-Qur’an dan sunnah Rasulullah dalam berdo’a maka itu termasuk melampaui batas dalam berdo’a.

Contoh perbuatan melampaui batas dalam berdo’a yang paling besar keburukannya dan paling parah dosanya adalah berbuat syirik dalam berdo’a atau meminta kepada selain-Nya sesuatu yang hanya Dia yang mampu melakukannya, seperti meminta dihindarkan dari bencana, rezki, kesembuhan penyakit dan lain-lain.

Allah berfirman:

{وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ}

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdo’a kepada selain Allah yang tidak dapat memperkenankan (doanya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka” (QS al-Ahqaaf: 5)[33].

Contoh-contoh lain perbuatan melampaui batas dalam berdo’a, seperti yang disebutkan oleh para ulama: mengeraskan suara dan berteriak dalam berdo’a, meminta sesuatu yang tidak layak, seperti meminta kedudukan yang di tempati para Nabi u, pengampunan dosa bagi orang-orang musyrik, atau sesuatu yang merupakan maksiat kepada Allah, seperti meminta pertolongan-Nya untuk melakukan kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan[34]. Demikian pula seperti mendo’akan keburukan bagi orang-orang yang beriman, atau mengucapkan pujian bagi Allah di dalam do’a dengan sesuatu yang tidak ditetapkan-Nya bagi diri-Nya, dan lain-lain[35].

2- Do’a yang mengandung dosa (maksiat) atau keburukan, bagi dirinya atau orang lain yang tidak bersalah, termasuk dalam hal ini pemutuskan hubungan silaturahim.

Dalam hadits yang lalu, ada isyarat tentang hal ini, yaitu sabda Rasulullah : “Tidak ada seorang muslimpun yang berdo’a (kepada Allah ) dengan permohonan yang tidak mengandung dosa (maksiat) atau pemutuskan hubungan silaturahim (hubungan baik dengan keluarga/kerabat)…”[36].

Ini termasuk bentuk rahmat (kasih sayang) dan kebaikan Allah bagi hamba-hamba-Nya, karena kalau seandainya Allah mengabulkan semua do’a keburukan manusia, maka akan timbul banyak kerusakan dan kebinasaan di muka bumi ini. Allah berfirman:

{وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ}

“Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur (dibinasakan) mereka” (QS Yuunus: 11).

Dalam ayat lain, Dia juga berfirman:

{وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ}

“Andaikata (Allah ) yang maha benar (selalu) menuruti (keinginan) hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya” (QS al-Mu’minuun: 71).

3- Tergesa-gesa meminta pengabulan do’a dari Allah .

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Akan dikabulkan (do’a) seorang hamba selama dia tidak tergesa-gesa, dia berkata: “Aku telah berdo’a (kepada Allah) tapi tidak dikabulkan”[37].

Orang yang tergesa-gesa meminta pengabulan do’a, ketika dia merasa pengabulan do’anya lambat, dia akan jenuh dan berputus asa, lalu meninggalkan do’a setelah itu[38].

4- Kelalaian hati dari (mengingat Allah ), serta dominasi hawa nafsu dan syahwat pada diri manusia[39].

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Berdo’alah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin dikabulkan. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari (seorang yang) hatinya lalai dan lupa (tidak mengingat Allah )”[40].

5- Mengkonsumsi harta yang haram, baik dalam makanan, minuman, maupun pakaian.

Mengkonsumsi harta yang haram adalah termasuk sebab utama tidak dikabulkannya doa dan ini adalah sebesar-besar bencana bagi hamba.

Rasulullah pernah bersabda menceritakan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, tubuhnya dipenuhi debu, ketika itu lelaki tersebut berdoa dengan mengangkat kedua tangannya ke langit dan menyebut nama Allah : Wahai Rabb, Wahai Rabb…, lalu beliau bersabda:

((ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام، فأنى يستجاب لذلك ؟))

“(Sedangkan) laki-laki tersebut mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak halal, pakainnya pun tidak halal dan selalu diberi (makanan) yang tidak halal, maka bagaimana mungkin permohonannya akan dikabulkan (oleh Allah )?[41].

Dalam hadits ini Rasulullah menjelaskan bahwa orang tersebut sebenarnya telah menghimpun banyak sebab yang seharusnya memudahkan terkabulnya permohonan dan doanya, akan tetapi karena perbutan maksiat yang dilakukannya, yaitu mengkonsumsi harta yang haram, sehingga pengabulan doa tersebut terhalangi[42].

6- Perbuatan zhalim (aniaya), dosa dan maksiat yang menjadikan hati tertutup[43].

Makna inilah yang diungkapkan oleh salah seorang ulama terdahulu, Yahya bin Mu’adz ar-Razi[44], dalam ucapan beliau:

لاَ تَسْتَبْطِئَنَّ اْلإِجابَةَ إذا دَعَوْتَ، وَقَدْ سَدَدْتَ طُرُقَها باِلذُّنُوْبِ

“Janganlah sekali-kali kamu merasa tidak dikabulkan (permohonanmu) ketika kamu berdo’a (kepada Allah ), karena sungguh kamu (sendiri) yang telah menutup pintu-pintu pengabulan (do’amu) dengan dosa-dosamu”[45].

7- Ilmu yang tidak bermanfaat. Yaitu ilmu yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah dengan pemahaman para Shahabat Rasulullah , serta tidak mewariskan rasa takut dan tunduk kepada Allah , sehingga tidak mewariskan amal shaleh[46].

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah pernah berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan”[47].

Dalam hadits yang agung ini, Rasulullah menggandengkan empat perkara yang tercela ini, sebagai isyarat bahwa ilmu yang tidak bermanfaat memiliki tanda-tanda dan pengaruh yang sangat buruk, yaitu hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak dikabulkan[48], nu’uudzu billahi min dzaalik.

 

Adab-adab berdo’a dan sebab-sebab terkabulnya

Dalam ayat-ayat al-Qur-an dan hadits-hadits yang shahih, dijelaskan beberapa adab dan sebab terkabulnya do’a, yang tentu saja semakin seorang hamba mengusahakan dan banyak menghimpunnya dalam do’anya, maka do’anya semakin kuat dan peluang dikabulkannya semakin besar.

Di antara adab-adab tersebut adalah:

1). Merendahkan suara ketika berdo’a

Allah berfirman:

{ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ}

“Berdoalah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS al-A’raaf: 55).

Dalam sebuah hadits yang shahih, dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa suatu saat para Shahabat y mengeraskan suara mereka dalam berdo’a, maka Rasulullah bersabda: “Wahai sekalian manusia, rendahkanlah (suaramu) pada dirimu sendiri, karena sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada (Dzat) yang tuli dan jauh, sesungguhnya Dzat yang kalian seru adalah maha mendengar lagi maha dekat”[49].

Imam Ibnu Juraij berkata: “Tida disukai ketika berdo’a meninggikan suara, menyeru, dan berteriak, tapi diperintahkan untuk merendahkan dan menundukkan diri (dengan suara yang lembut ketika berdo’a)”[50].

Merendahkan suara ketika berdo’a merupakan salah satu adab yang sangat agung dan penting dalam berdo’a, karena ini berhubungan langsung dengan sebab-sebab besar yang memudahkan terkabulnya do’a.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan beberapa faidah dan manfaat besar merendahkan suara dan tidak mengeraskannya ketika berdo’a, di antaranya:

  1. Merendahkan suara dalam berdo’a menunjukkan keimanan yang lebih agung (lebih kuat), karena orang yang melakukannya mengetahui (meyakini) bahwa Allah maha mendengar do’a yang tersembunyi.
  2. Ini menunjukkan adab dan pengagungan (kepada Allah ) yang lebih tinggi, karena Allah maha mendengar do’a yang tersembunyi, maka tidaklah pantas dalam beradab (bersikap sopan) di hadapan Allah kecuali dengan merendahkan suara ketika berdo’a (kepada-Nya).
  3. Ini lebih tinggi dalam (menunjukkan) sikap khusyu’ dan tunduk (di hadapan Allah ) yang merupakan ruh, inti dan maksud do’a.
  4. Ini lebih tinggi dalam (menunjukkan) keikhlasan.
  5. Ini lebih memudahkan hati terfokus untuk tunduk (kepada Allah ) dalam berdo’a, karena mengeraskan suara akan membuyarkan (konsentrasi hati), semakin seorang hamba merendahkan suaranya (ketika berdo’a kepada Allah ) maka akan semakin memudahkannya untuk menyatukan tekad dan keinginannya untuk Allah .
  6. Ini menunjukkan kedekatan seorang hamba dengan (Allah ) yang maha dekat, bukan seperti seruan orang yang jauh kepada sesuatu yang jauh (darinya). Oleh karena itu, Allah memuji hamba-Nya (Nabi) Zakaria u dalam firman-Nya:

{إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا}

“Yaitu tatkala Zakaria u berdo’a kepada Rabbnya dengan suara yang lembut” (QS Maryam: 3).

Ketika hati seorang hamba merasakan kedekatan Allah dan bahwa Dia lebih dekat dari semua yang dekat, maka hamba tersebut akan merendahkan (suara dalam) do’anya semaksimal mungkin.

  1. Ini lebih membangkitkan semangat untuk terus berdo’a dan memohon (kepada Allah ), karena (dengan yang lembut) lidah tidak akan jenuh dan badan tidak akan kepayahan. Berbeda dengan suara yang dikeraskan, ini bisa menjadikan lidah jenuh dan lemah semangatnya[51].

 

2). Bertawassul kepada Allah dengan sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya, sebelum menyampaikan permohonan dalam do’a.

Allah berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah Kepada Allah dan carilah wasilah (jalan/sarana untuk mendekatkan diri) kepada-Nya serta berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS al-Maaidah: 35).

Imam Ibnu Katsir berkata: “Wasiilah adalah sesuatu yang dijadikan (sebagai sarana) untuk mencapai tujuan”[52].

Inilah hakikat makna tawassul, oleh karena itu Imam Qotadah al-Bashri[53] menafsirkan ayat di atas dengan ucapannya: “Artinya: dekatkanlah dirimu kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengamalkan perbuatan yang diridhai-Nya”[54].

     Tawassul yang disyariatkan dalam Islam, ada beberapa macam:

     A- Tawassul dengan nama-nama Allah yang maha indah. Inilah yang diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya:

{وللهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا}

“Dan Allah mempunyai al-asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut al-asma-ul husna itu” (QS al-A’raaf: 180).

Artinya: berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha indah sebagai wasilah (sarana) agar doa tersebut dikabulkan-Nya[55].

Tawassul ini disebutkan dalam banyak hadits yang shahih, di antaranya dalam doa yang diajarkan oleh Rasulullah bagi orang yang ditimpa kesedihan dan kegundahan: “Aku memohon kepada-Mu (ya Allah) dengan semua nama (yang maha indah) yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau khususkan (bagi diri-Mu) pada ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau menjadikan al-Qura’n sebagai penyejuk hatiku, cahaya (dalam) dadaku, penerang kesedihanku dan penghilang kegundahanku”[56].

     B- Tawassul dengan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, sebagaimana doa Nabi Sulaiman u dalam al-Qur’an:

{وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِين}

“Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh”(QS an-Naml: 19).

Juga dalam doa Rasulullah : “Ya Allah, dengan pengetahuan-Mu terhadap (hal yang) gaib dan kemahakuasaan-Mu untuk menciptakan (semua makhluk), tetapkanlah hidupku selama Engkau mengetahui kehidupan itu baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika selama Engkau mengetahui kematian itu baik bagiku”[57].

     C- Tawassul dengan beriman kepada Allah , sebagaimana doa hamba-hamba-Nya yang shaleh dalam al-Qur’an:

{رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ}

“Wahai Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Rabbmu”; maka kamipun beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti” (QS Ali ‘Imran: 193).

     D- Tawassul dengan kalimat tauhid, sebagaimana doa Nabi Yunus u dalam al-Qur’an:

{وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ}

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru (berdoa kepada Allah) di kegelapan: “Laa ilaaha illa anta (Tidak ada sembahan yang benar selain Engkau), Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikanlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” (QS al-Anbiyaa’: 87-88).

Dalam hadits yang shahih Rasulullah menjamin pengabulan doa dari Allah bagi orang yang berdoa kepada-Nya dengan doa ini[58].

     E- Tawassul dengan amal shaleh, sebagaimana doa hamba-hamba Allah yang shaleh dalam al-Qur’an:

{رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ}

“Wahai Rabb kami, kami beriman kepada apa (kitab-Mu) yang telah Engkau turunkan dan kami mengikuti (petunjuk) rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang tauhid dan kebenaran agama-Mu)” (QS Ali ‘Imran: 53).

Demikian pula yang disebutkan dalam hadits yang shahih, kisah tentang tiga orang shaleh dari umat sebelum kita, ketika mereka melakukan perjalanan dan bermalam dalam sebuah gua, kemudian sebuah batu besar jatuh dari atas gunung dan menutupi pintu gua tersebut sehingga mereka tidak bisa keluar, lalu mereka berdoa kepada Allah dan bertawassul dengan amal shaleh yang pernah mereka lakukan dengan ikhlas kepada Allah, sehingga Allah kemudian menyingkirkan batu tersebut dan merekapun keluar dari gua tersebut[59].

     F- Tawassul dengan menyebutkan keadaan dan ketergantungan seorang hamba kepada Allah , sebagaimana dalam doa Nabi Musa u dalam al-Quq’an:

{رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ}

“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” (QS al-Qashash: 24).

Juga doa Nabi Zakaria u:

{رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا. وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا}

“Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari Engkau seorang putera” (QS Maryam: 4-5).

     G- Tawassul dengan doa orang shaleh yang masih hidup dan diharapkan terkabulnya doanya. Sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat y di masa hidup Rasulullah , seperti perbuatan seorang Arab dusun yang meminta kepada Rasulullah agar berdoa kepada Allah memohon diturunkan hujan, ketika beliau sedang berkhutbah hari Jum’at, lalu Rasulullah berdoa meminta hujan lalu hujanpun turun sebelum beliau turun dari mimbar[60].

Kemudian setelah Rasulullah wafat, para shahabat y tidak meminta kebutuhan mereka kepada Rasulullah dengan datang ke kuburan beliau , karena mereka mengetahui perbuatan ini dilarang keras dalam Islam. Akan tetapi yang mereka lakukan adalah meminta kepada orang shaleh yang masih di antara mereka untuk berdoa kepada Allah .

Seperti perbuatan shahabat yang mulia ‘Umar bin al-Khaththab di jaman kekhalifahan beliau , jika manusia mengalami musim kemarau, maka beliau berdoa kepada Allah dan bertawassul dengan doa paman Rasulullah , ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib . ‘Umar berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya dulu kami selalu bertawassul kepada-Mu dengan (doa) Nabi kami lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami, dan (sekarang) kami bertawassul kepada-Mu dengan (doa) paman Nabi kami (‘Abbas ) maka turunkanlah hujan kepada kami”. Lalu hujanpun turun kepada mereka[61].

Demikian pula perbuatan shahabat yang mulia, Mu’awiyah bin Abi Sufyan di masa pemerintahan beliau . Ketika terjadi musim kemarau, Mu’awiyah bersama penduduk Damaskus bersama-sama melaksanakan shalat istisqa’ (meminta hujan kepada Allah ). Ketika Mu’awiyah telah naik mimbar, beliau berkata: “Dimanakah Yazid bin al-Aswad al-Jurasyi?”. Maka orang-orangpun memanggilnya, lalu diapun datang melewati barisan manusia, kemudian Mu’awiyah menyuruhnya untuk naik mimbar dan beliau sendiri duduk di dekat kakinya dan beliau berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya hari ini kami meminta syafa’at kepada-Mu dengan (doa) orang yang terbaik dan paling utama di antara kami, ya Allah, sesungguhnya hari ini kami meminta syafa’at kepada-Mu dengan (doa) Yazid bin al-Aswad al-Jurasyi”, wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu (untuk berdoa) kepada Allah!”. Maka Yazidpun mengangkat kedua tangannya, demikian pula manusia mengangkat tangan mereka. Tak lama kemudian muncullah awan (mendung) di sebelah barat seperti perisai dan anginpun meniupnya, lalu hujan turun kepada kami sampai-sampai orang hampir tidak bisa kembali ke rumah-rumah mereka (karena derasnya hujan)[62].

Adapaun selain yang kami sebutkan di atas, maka itu termasuk tawassul yang dilarang dalam Islam, karena tidak ada asalnya dalam agama Islam dan tidak ditunjukkan dalam dalil al-Qur’an maupun hadits Rasulullah .

Beberapa contoh tawassul yang dilarang dalam Islam adalah sebagai berikut:

A- Tawassul dengan orang yang sudah mati dan berdoa kepadanya selain Allah . Ini termasuk perbuatan syirik besar yang bisa menjadikan pelakunya keluar dari Islam. Allah berfirman:

{وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ}

“Dan janganlah kamu menyeru (memohon) kepada sembahan-sembahan selain Allah yang tidak mampu memberikan manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik)” (QS Yuunus: 106).

Termasuk dalam hal ini adalah bertawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat, ini termasuk perbuatan syirik. Oleh karena itu, para shahabat y tidak pernah melakukannya padahal mereka sangat mencintai Rasulullah .

   B- Tawassul dengan jaah (kedudukan) Rasulullah atau orang-orang yang shaleh di sisi Allah. Ini termasuk tawassul yang bid’ah dan tidak pernah dilakukan oleh para shahabat y padahal mereka sangat mencintai dan memahami tingginya kedudukan Rasulullah di sisi Allah .

Hal ini dikarenakan kedudukan Rasulullah tidaklah bisa bermanfaat bagi siapapun kecuali bagi Rasulullah sendiri, meskipun bagi orang-orang terdekat dengan beliau [63], sebagaimana sabda beliau : “Wahai Fathimah putri (Nabi) Muhammad , mintalah dari hartaku (yang aku miliki) sesukamu, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi (memberi manfaat) bagimu sedikitpun di hadapan Allah”[64].

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Tawassul ini adalah bid’ah dan bukan kesyirikan, karena memohon kepada Allah. Akan tetapi terkadang bisa membawa kepada kesyirikan, yaitu jika orang yang bertawassul itu berkeyakinan bahwa Allah butuh kepada perantara (untuk mengetahui permintaan makhluk-Nya) sebaimana seorang pemimpin atau presiden (butuh kepada perantara), (maka ini termasuk syirik/kafir) karena telah menyerupakan (Allah ) Yang Maha Pencipta dengan makhluk-Nya, padahal Allah berfirman:

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS asy-Syuura:11)[65].

Sebagian orang yang membolehkan tawassul ini berdalil dengan sebuah hadits palsu: “Bertawassullah kalian (dalam riwayat lain: Jika kalian memohon kepada Allah maka memohonlah) dengan kedudukanku, karena sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangat agung”

Hadits ini adalah hadits yang palsu dan merupakan kedustaan atas nama Nabi , bahkan hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorangpun dari para ulama ahli hadits dalam kitab-kitab mereka, sebagaimana yang ditegaskan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[66].

     C- Tawassul dengan hak Rasulullah dan hak para wali Allah.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata: “Tawassul ini tidak diperbolehkan (dalam Islam), karena tidak ada satu nukilanpun dari shahabat Rasulullah yang menjelaskan (kebolehannya). Imam Abu Hanifah dan dua orang murid utama beliau (Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan asy-Syaibani) membenci (mengharamkan) seseorang yang mengucapkan dalam doanya: “(Ya Allah), aku memohon kepada-Mu dengan hak si Fulan, atau dengan hak para Nabi dan Rasul-Mu u, atau dengan hak baitullah al-haram (ka’bah)”, atau yang semisal itu, karena tidak ada seorangpun yang mempunyai hak atas Allah (lihat kitab “Syarhul Ihya’)[67].

 

3). Mengangkat kedua tangan ketika berdo’a

Dalam sebuah hadist yang shahih, dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah bersabda:

« إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »

“Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) adalah maha pemalu lagi maha pemurah, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa”[68].

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa mengangkat tangan ketika berdo’a termasuk adab berdo’a yang agung dan merupakan sebab terkabulnya do’a[69].

Hadits-hadits lain dari Rasulullah yang menyebutkan adab yang agung ini sangat banyak, sehingga para ulama menegaskan bahwa ini termasuk hadits yang mutawatir ditinjau dari segi maknanya[70]. Imam as-Suyuthi bahkan mengatakan bahwa mengangkat tangan ketika berdo’a disebutkan dalam sekitar seratus hadits dari Rasulullah [71].

4). Menghadap ke qiblat (ka’bah) ketika berdo’a

Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menghadap ke arah qiblat dalam ibadah-ibadah mereka, maka sebagaimana ketika shalat kita menghadap qiblat, demikian pula ketika berdo’a kita dianjurkan menghadap ke arah qiblat[72].

Dalam beberapa hadits yang shahih, Rasulullah mempraktekkan adab yang mulia ini ketika beliau berdo’a:

–          Dari ‘Abdullah bin Mas’ud , beliau berkata: “Rasulullah menghadap ke Ka’bah lalu beliau mendo’akan (kebinasaan) bagi beberapa tokoh (musyrikin) Quraisy; Syaibah bin Rabi’ah, ‘Utbah bin Rabi’ah, al-Walid bin ‘Uqbah, dan Abu Jahl bin Hisyam…[73]

–          Dari ‘Abdullah bin Zaid , beliau berkata: “Rasulullah keluar menuju tanah lapang ini untuk (berdo’a kepada Allah ) memohon turunnya hujan, lalu beliau berdo’a dan memohon (kepada allah ) turunnya hujan, kemudian beliau menghadap ke qiblat dan membalik selendang beliau ”[74].

 

5). Termasuk adab yang sangat penting dan agung dalam berdo’a adalah memuji dan menyanjung Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi sebelum mengajukan permohonan kepada-Nya. Ini merupakan sebab kuat terkabulnya do’a dan termasuk tawassul yang diperintahkan dalam firman-Nya:

{وللهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا}

“Dan Allah mempunyai al-asma-ul husna (nama-nama yang maha indah), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut al-asma-ul husna itu” (QS al-A’raaf: 180).

Kalau kita perhatikan dan renungkan do’a-do’a yang disebutkan dalam al-Qur-an dan hadits-hadits Rasulullah , kita dapati mayoritasnya dimulia dengan memuji dan menyanjung Allah , menyebut limpahan nikmat dan karunia-Nya, serta mengakui luasnya rahmat, kebaikan dan pemberian-Nya.

 

6). Berdo’a dengan menyebut nama Allah yang paling agung

Adab yang mulia ini disebutkan dalam beberapa hadits yang shahih sebagai sebab yang menjadikan do’a dan permohonan tidak akan ditolak oleh Allah .

  1. Dari Anas bin Malik , bahwa Rasulullah mendengar seorang yang berdoa (dalam shalat):

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ – وفي رواية: وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ – الْمَنَّانُ، يَا بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ، يَا ذَا الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ – وفي رواية: إِنِّي أَسْأَلُكَ…

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwa sesungguhnya segala pujian adalah milik-Mu, tiada sembahan yang benar kecuali Engkau – dalam riwayat lain: satu-satunya dan tiada sekutu bagi-Mu –, Yang Maha Pemberi karunia, wahai Pencipta langit dan bumi, wahai Yang Maha Maha Memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri – dalam riwayat lain: sesungguhnya aku meminta kepada-Mu…”

Maka Rasulullah bersabda: “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh dia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkan (doanya), dan jika dia meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi (permintaannya)”[75].

  1. Dari Buraidah bin al-Hushaib beliau berkata: “Rasulullah mendengar seorang lelaki berkata (dalam doanya):

اللَّهمَّ إِني أسألُكَ بأني أَشْهَدُ أنَّكَ أنْتَ اللهُ ، لا إلهَ إلا أنتَ، الأحَدُ الصَّمَدُ ، الَّذِي لمَ ْيَلِدْ ولم يُولَدْ ، ولم يكن له كُفُوا أحَدٌ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dengan persaksianku bahwa sungguh Engkau Allah yang tiada sembahan yang benar kecuali Engkau, Yang Maha Esa lagi Maha Sempurna dan bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, serta tiada seorangpun yang setara dengan-Nya”

Maka Rasulullah bersabda: “Sungguh dia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang meminta kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan memenuhi (permintaannya), dan jika dia berdoa kepada-Nya dengan nama tersebut maka Allah akan mengabulkan (doanya)”[76].

  1. Dari Abu Umamah al-Bahili bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya nama Allah yang paling agung (terdapat) dalam tiga surat dari al-Qur-an: surah al-Baqarah, Ali ‘Imran dan Thaahaa”[77].

 

7). Memilih waktu-waktu yang dijanjikan padanya pengabulan do’a

A.Sepertiga malam yang terakhir

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Rabb kita (Allah) turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, Dia berfirman: “Barangsiapa yang berdo’a kepada-Ku maka Aku akan mengabulkannya, barangsiapa yang meminta kepada-Ku maka Aku akan memenuhi (permintaan)nya, dan barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya”[78].

B. Waktu di antara adzan dan iqamah

Dari Anas bin malik bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak ditolak do’a (yang diucapkan) di antara adzan dan iqamah”[79].

C.Di akhir shalat lima waktu sebelum salam

Dari Abu Umamah bahwa Rasulullah pernah ditanya: Do’a apakah yang paling didengar (dikabulkan oleh Allah )? Beliau bersabda: “(Do’a) di tengah malam (akhir malam) dan di ujung (akhir) shalat-shalat (lima waktu) yang wajib”[80].

Yang di maksud ‘akhir shalat yang wajib’ dalam hadits ini adalah sebelum salam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[81] dan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin[82].

     D. Ketika tergugah dari tidur di malam hari

Dari ‘Ubadah bin Shamit , dari Rasulullah beliau bersabda: “Barangsiapa yang terjaga di malam hari, kemudian dia membaca (zikir tersebut di atas): Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia maha mampu atas segala sesuatu, segala puji bagi Allah, maha suci Allah, tiada sembahan yang benar kecuali Allah, Allah maha besar, serta tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, kemudian dia mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah (dosa-dosa)ku”, atau dia berdoa (dengan doa yang lain), maka akan dikabulkan doanya, jika dia berwudhu dan melaksanakan shalat maka akan diterima shalatnya”[83].

     E. Di waktu tertentu pada hari Jum’at

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah menyebut hari Jum’at, lalu beliau bersabda: “Di hari Jum’at ada suatu waktu (tertentu) yang ketika itu jika bertepatan dengan seorang muslim yang sedang shalat (dan) memohon sesuatu kepada Allah maka pasti Allah berikan permohonannya tersebut”, lalu Rasulullah mengisyaratkan dengan tangan beliau bahwa waktu itu sangat singkat[84].

Ada beberapa pendapat ulama tentang maksud ‘waktu tertentu’ dalam hadits ini[85], akan tetapi pendapat yang paling kuat dan lebih dekat dengan argumentasi yang shahih adalah dua pendapat:

1- Waktu tersebut adalah waktu di antara duduknya imam (khathib) di atas mimbar sampai berakhirnya shalat Jum’at.

Ini berdasarkan hadits riwayat Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah bersabda: “Waktu tertentu itu adalah (waktu) di antara duduknya imam (khathib di atas mimbar) sampai berakhirnya shalat Jum’at”[86].

2- Waktu tersebut adalah waktu di antara sesudah shalat Ashar sampai matahari terbenam.

Pendapat ini juga berargumentasi dengan sebuah hadits yang shahih dari ‘Abdullah bin Salam bahwa Rasulullah bersabda: “Waktu tertentu itu adalah di akhir waktu siang (sebelum matahari terbenam”[87].

Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menguatkan kedua pendapat di atas[88], sementara Imam Ibnul Qayyim menguatkan pendapat yang kedua[89].

     F. Di waktu safar

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Ada tiga do’a yang terkabulkan tanpa keraguan; do’a orang tua (bagi anaknya), do’a orang yang sedang bersafar, dan do’a orang yang teraniaya”[90].

     G. Ketika berpuasa

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “Ada tiga do’a yang tidak tertolak; do’a orang tua (bagi anaknya), do’a orang yang sedang berpuasa, dan do’a orang yang sedang bersafar”[91].

     H. Di hari “Arafah

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik do’a adalah do’a di hari ‘Arafah, dan sebaik-baik (dzikir) yang aku ucapkan dan diucapkan Nabi-nabi sebelumku (adalah): Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu”[92].

8). Demikian pula adab-adab lain yang dijelaskan oleh para ulama, seperti: bertaubat dengan sungguh-sungguh sebelum berdo’a, berdo’a dengan khusyu’, merendahkan diri dan tunduk kepada Allah , melakukan al-ilhah (merengek dan memohon dengan kesungguhan yang besar) kepada-Nya, terus-menerus dan tidak bosan dalam memohon kepada-Nya[93], serta adab-adab lainnya.

 

Permohonan apakah yang tidak akan ditolak oleh Allah ?

Berdasarkan pemaparan di atas, kita dapat menjawab pertanyaan ini, bahwa permohonan yang tidak akan ditolak oleh Allah adalah permohonan yang terpenuhi padanya syarat-syarat terkabulnya do’a, jauh dari penghalang-penghalangnya, dan dihiasi dengan adab-adab berdo’a sebanyak mungkin, sebagaimana yang telah kami jelaskan. Inilah do’a yang tidak akan ditolak oleh Allah , insya Allah.

Imam Ibnul Qayyim berkata: “Jika terkumpul dalam do’a (seorang hamba) hadirnya hati dan terfokusnya secara utuh kepada permohonan yang dimintanya, (waktu dia berdo’a) bertepatan dengan salah satu dari enam waktu (yang dijanjikan padanya) pengabulan do’a, yaitu sepertiga malam yang terakhir, ketika adzan (berkumandang), (waktu) di antara adzan dan iqamah, di akhir shalat-shalat (lima waktu) yang wajib (sebelum salam), ketika imam (khathib) naik ke mimbar pada hari Jum’at sampai selesai shalat Jum’at, dan akhir waktu (siang) setelah shalat ashar (sebelum matahari terbenam) pada hari Jum’at, disertai perasaan khusyu’ dalam hati, merendahkan diri, tunduk, pasrah dan mengakui kelemahan diri (di hadapan Allah ), dia berdo’a dalam keadaan suci (dari hadats), menghadap qiblat serta mengangkat kedua tangannya kepada Allah , Dia memulai (do’anya) dengan memuji dan menyanjung Allah, lalu bershalawat atas Nabi Muhammad , kemudian sebelum menyampaikan permohonannya, dia bertaubat dan beristigfar (memohon ampun kepada-Nya), setelah itu dia menyampaikan permohonannya kepada Allah, dengan merengek-rengek dan bersungguh-sungguh meminta, disertai perasaan takut dan berharap, bertawassul kepada-Nya dengan nama-nama-Nya (yang maha indah), sifat-sifat-Nya (yang maha tinggi), dan mentauhidkan-Nya, serta terlebih dahulu bersedekah sebelum berdo’a. Sungguh do’a (seperti) ini hampir (pasti) tidak akan ditolak selamanya. Terlebih lagi jika do’a tersebut bersesuaian dengan do’a-do’a yang diberitakan oleh Rasulullah bahwa do’a-do’a tersebut kemungkinan (besar) dikabulkan atau mengandung nama Allah yang paling agung…”[94].

 

Nasehat dan penutup

Demikianlah penjelasan tentang agungnya kedudukan dan kemuliaan berdo’a kepada Allah , yang ternyata menjadikan kita semakin bersemangat dan termotivasi untuk terus menerus melakukannya, bukan hanya karena mempertimbangkan pengabulan do’a itu sendiri, tapi lebih dari itu, untuk meraih kedudukan yang mulia dan tinggi di sisi Allah , karena banyak berdo’a merupakan sebab utama meraih kecintaan Allah , bentuk penghambaan diri yang seutuhnya kepada-Nya, serta pengakuan dan keyakinan akan sempurnanya sifat-sifat rububiyah-Nya.

‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Sesungguhnya aku tidak membawa keinginan kuat (untuk sekedar) dikabulkannya do’aku, tetapi aku (selalu) membawa keinginan kuat (untuk terus) berdo’a, karena jika kamu mendapatkan petunjuk (dari Allah ) untuk (selalu) berdo’a maka sesungguhnya pengabulan (dari Allah ) selalu bersamanya”[95].

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha tinggi agar Dia menganugerahkan kepada kita taufik-Nya untuk selalu berdo’a kepada-Nya dan memohon karunia-Nya yang luas disertai dengan katundukan hati, sikap merendahkan diri dan sebab-sebab serta adab-adab do’a lainnya, sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha mengabulkan do’a.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

Kota Kendari, 8 Ramadhan yang penuh berkah 1435 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

 

 

 

 

[1]Diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam kitab “az-Zuhd” (no. 1346).

[2]Kitab “Majmuu’ul fata-wa” (10/661).

[3]Lihat penjelasan Syaikh ‘Abdur Razzaq al-Badr dalam kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/7).

[4]HR Abu Dawud (no. 1479), at-Tirmidzi (5/211), Ibnu Majah (no. 3828) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.

[5]Lihat kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (4/109) dan “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 740).

[6] HR at-Tirmidzi (no. 3373) dan al-Hakim (1/667), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani.

[7] Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (4/109).

[8] Kitab “Al Fawa-id” (hal. 133- cet. Muassasah ummil Qura, Mesir 1424 H).

[9] Kitab “Mada-rijus saalikiin” (3/102).

[10] Lihat kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 587).

[11] HR al-Hakim (1/667), dinyatakan shahih oleh al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab “Silsilatul ahaa-diitsidh dha’iifati wal maudhuu’ah” (no. 1579).

[12] HR at-Tirmidzi (5/455), Ahmad (2/362), Ibnu Hibban (3/151) dan al-Hakim (1/666), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan al-Hakim, serta dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.

[13]Lihat kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/13).

[14] Kitab “Mu’jamu maqa-yiisil lugah” (2/228).

[15] Lihat keterangan Imam Abu Hayyan al-Andaluusi dalam kitab tafsir beliau “al-Bahrul muhiith” (5/361).

[16] Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Majmuu’ul fata-wa” (15/19) dan Imam Ibnul Qayyim dalam “Bada-i’ul fawa-id” (3/521).

[17] Lihat keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “Majmuu’ul fata-wa” (10/258), Imam Ibnul Qayyim dalam “Jala-ul afhaam” (hlmn. 155) dan Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hlmn 87).

[18] Lihat keterangan Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hlmn 257 dan 415).

[19]HR Abu Dawud (no. 1479), at-Tirmidzi (5/211), Ibnu Majah (no. 3828) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.

[20]Lihat kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/39-40).

[21]HSR al-Bukhari (no. 1094) dan Muslim (no. 758) dari Abu Hurairah t.

[22]HR Abu Dawud (no. 1488), at-Tirmidzi (no. 3556), Ibnu Majah (no. 3865) dan Ibnu Hibban (no. 876) dari Salman al-Farisi t. Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Ja’far bin Maimun, ada kelemahan pada riwayatnya, akan tetapi hadits ini memiliki banyak jalur yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/147), Ibnul Qayyim dan al-Albani (Mukhtasharul ‘uluw, hal. 75).

[23]Lihat kitab “Fathul Baari” (11/95 dan 345).

[24]Kitab “Fathul Baari” (11/345).

[25]Kitab “Fathul Baari” (11/95-96).

[26]HR Ahmad (3/18) dan al-Hakim (1/670), dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, Imam al-Mundziri dan Syaikh al-Albani (Shahih at-Targib wat tarhib no 1633).

[27]Lihat kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/28-29).

[28]Kitab “al-Jawaabul kaafi” (hlmn 3-4).

[29]Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 87).

[30]Lihat Kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/68).

[31]Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsir beliau (2/296).

[32]Kitab “Majmu’ul fata-wa” (15/22).

[33]Lihat Kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/70-71).

[34]Lihat “Tafsir Ibni Katsir” (2/296) dan “Majmu’ul fata-wa” (1/130).

[35]Lihat Kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/76).

[36]HR Ahmad (3/18) dan al-Hakim (1/670), dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim, Imam al-Mundziri dan Syaikh al-Albani (Shahih at-Targib wat tarhib no. 1633).

[37]HSR al-Bukhari (no. 5981) dan Muslim (no. 2735).

[38]Lihat kitab “Fathul Baari” (11/140-141) dan “’Aunul Ma’buud” (4/250).

[39]Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Jawaabul kaafi” (hlmn 3-4).

[40] HR at-Tirmidzi (no. 3479) dan al-Hakim (no. 1817), juga oleh Ahmad dari jalur lain (2/177), dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani karena diriwayatkan dari dua jalur yang saling mendukung. Lihat kitab “silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 594).

[41] HSR Muslim (no. 1015).

[42] Lihat kitab “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 105-107).

[43]Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Jawaabul kaafi” (hlmn 3-4).

[44] Biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin nubalaa’” (13/15).

[45] Diriwayatkan oleh imam al-Baihaqi dalam “Syu’abul iman” (no. 1154) dan dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam “Jaami’ul ‘uluumi wal hikam” (hal. 108).

[46] Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Fadhlu ‘ilmis salaf ‘ala ‘ilmil khalaf” (hal. 6) dan “al-Khusyuu’ fish shalaah” (hal. 16).

[47] HSR Muslim (no. 2722).

[48] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/319) dan “Faidhul Qadiir” (2/108).

[49]HSR al-Bukhari (no. 3968) dan Muslim (no. 2704).

[50] Dinukil oleh Imam Ibnu Jarir (12/487) dan Ibnu Katsir (2/296).

[51] “Majmuu’ul fata-wa (15/15) dan “Bada-I’ul fawaa-id” (3/518-519).

[52]Kitab “Tafsir Ibnu Katsir” (2/73).

[53]Beliau adalah Qotadah bin Di’aamah as-Saduusi al-Bashri (wafat setelah tahun 110 H), Imam besar dari kalangan tabi’in yang sangat terpercaya dan kuat dalam meriwayatkan hadits Rasulullah r (lihat kitab “Taqriibut tahdziib”, hal. 409).

[54]Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam “Tafsir Ibnu Katsir” (2/73).

[55]Lihat kitab “at-Tawassulu anwaa’uhu wa ahkaamuhu” (hal. 32).

[56]HR Ahmad (1/391), Ibnu Hibban (no. 972) dan al-Hakim (no. 1877), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, Ibnul Qayyim dalam “Syifa-ul ‘aliil” (hal. 274) dan syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 199).

[57]HR an-Nasa-i (no. 1305 dan 1306), Ahmad (4/264) dan Ibnu Hibban (no. 1971), dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban dan syaikh al-Albani.

[58]HR at-Tirmidzi (no. 3505) dan Ahmad (1/170), dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani.

[59]HSR al-Bukhari (no. 2152) dan Muslim (no. 2743).

[60]HSR al-Bukhari (no. 968) dan Muslim (no. 897).

[61]HSR al-Bukhari (no. 964 dan 3507).

[62]Atsar riwayat Ibnu ‘Asakir dalam “Tarikh Dimasq” (65/112) dan dinyatakan shahih oleh syaikh al-albani dalam kitab ” at-Tawassulu anwaa’uhu wa ahkaamuhu ” (hal. 45).

[63] Lihat “Kutubu wa Rasa-il syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin” (79/5).

[64]HSR al-Bukhari (no. 2602 dan 4493) dan Muslim (no. 206).

[65]Kitab “Kaifa nafhamut tawassul” (hal. 13).

[66]Lihat kitab “al-Fatawal kubra” (2/433) dan “at-Tawassulu anwaa’uhu wa ahkaamuhu” (hal. 128).

[67]Kitab “Kaifa nafhamut tawassul” (hal. 13).

[68]HR Abu Dawud (no. 1488), at-Tirmidzi (no. 3556), Ibnu Majah (no. 3865) dan Ibnu Hibban (no. 876). Dalam sanadnya ada perawi yang bernama Ja’far bin Maimun, ada kelemahan pada riwayatnya, akan tetapi hadits ini memiliki banyak jalur yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/147), Ibnul Qayyim dan al-Albani (Mukhtasharul ‘uluw, hal. 75).

[69]Lihat Kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/175).

[70]Lihat Kitab “Tuhfatul ahwadzi” (2/172).

[71]Lihat Kitab “Tadriibur Raawi” (2/180).

[72]Lihat Kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/198).

[73]HSR al-Bukhari (no. 3743) dan Muslim (no. 1794).

[74]HSR al-Bukhari (no. 5983) dan Muslim (no. 894).

[75]HR Ahmad (3/245 dan 3/265), Abu Dawud (no. 1493 dan 1494), at-Tirmidzi (no. 3475), Ibnu Majah (no. 3857) dan Ibnu Hibban (no. 893), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani.

[76]HR Ahmad (5/360), Abu Dawud (no. 1495), an-Nasa-i (no. 1300), at-Tirmidzi (no. 3544), Ibnu Majah (no. 3858), Ibnu Hibban (no. 892) dan al-Hakim (no. 1858 dan 1859), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi, serta dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan Syaikh al-Albani.

[77]HR Ibnu Majah (no. 3856) dan al-Hakim (no. 1861), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 746).

[78]HSR al-Bukhari (no. 1094) dan Muslim (no. 758) dari Abu Hurairah t.

[79]HR Abu Dawud (no. 521), at-Tirmidzi (no. 212) dan Ahmad (3/119 dan 254), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.

[80]HR at-Tirmidzi (no. 9936) dan an-Nasa-i (6/32), dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.

[81]Lihat kitab “Zaadul Ma’aad” (1/305).

[82]Lihat kitab “asy-Syarhul mumti’ (1/678).

[83]HSR al-Bukhari (no. 1103), Abu Dawud (no. 5060), at-Tirmidzi (no. 3414) & Ibnu Majah (no. 3878).

[84]HSR al-Bukhari (no. 893) dan Muslim (no. 852).

[85]Lihat kitab “Fathul Baari” (2/418).

[86]HSR Muslim (no. 853).

[87]HR Ibnu Majah (no. 1139) dan Ahmad (5/451), dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani.

[88]Lihat kitab “Fathul Baari” (2/421).

[89]Lihat kitab “Zaadul ma’aad” (1/390-391).

[90]HR Abu Dawud (no. 1536), at-Tirmidzi (no. 9936) dan Ibnu Majah (no. 3862), dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.

[91]HR al-Baihaqi (3/345) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani (lihat kitab “ash-shahiihah” no. 1797).

[92]HR at-Tirmidzi (5/572), dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani karena banyak jalurnya yang saling mendukung (lihat kitab “ash-shahiihah” no. 1503).

[93]Lihat Kitab “Fiqhul ad’iyati wal adzkaar” (2/161-165).

[94]Kitab “al-Jawaabul kaafi” (hlmn 5).

[95]Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab “al-Fawa-id” (hlmn 97).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s