Isti’adzah Dalam Shalat

Isti’adzah Dalam Shalat

Hukum Isti’adzah Dalam Shalat

Disyari’atkan untuk membaca isti’adzah sebelum membaca Al Qur’an, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Termasuk juga ketika sebelum membaca Al Fatihah dalam shalat. Namun para ulama berbeda pendapat mengenai hukum membaca isti’adzah sebelum membaca Al Qur’an. Sebagian ulama, berpendapat hukumnya wajib, berdalil dengan ayat:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” (QS. An Nahl: 98)

dalam ayat ini digunakan bentuk perintah (فَاسْتَعِذْ), sedangkan hukum asal perintah adalah wajib. Ini yang menjadi pendapat Atha’, Sufyan Ats Tsauri dan sebagian ulama Hanabilah.

Sedangkan jumhur ulama, diantaranya Hanafiyah, Syafi’iyyah, dan pendapat mu’tamad madzhab Hanabilah berpendapat hukumnya sunnah. Diantaranya faktor yang memalingkan hukumnya dari wajib adalah adanya klaim ijma bahwa para salaf tidak menganggapnya wajib dan juga ada beberapa hadits yang mengisyaratkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terkadang tidak isti’adzah sebelum membaca Al Qur’an. Diantaranya hadits ‘Aisyah radhiallahu’anha, beliau berkata:

كان رسولُ اللهِ _صلى الله عليه وسلم_ يَستفتِحُ الصلاةَ بالتكبيرِ , والقِراءةَ ب “الحمدُ للهِ ربِّ العالَمينَ “

biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memulai shalatnya dengan takbir, lalu membaca alhamdulillahi rabbil ‘alamin..” (HR. Muslim 498).

Sehingga yang rajih insya Allah isti’adzah dalam shalat hukumnya sunnah, tidak wajib (lihat Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah 4/6, Shifatu Shalatun Nabi lit Tharifi 79).

Kapan Isti’adzah?

Isti’adzah diucapkan setelah membaca istiftah dan sebelum membaca Al Fatihah. Berdasarkan surat An Nahl ayat 98 yang telah disebutkan. Juga sebagaimana disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Abu Daud (775), At Tirmidzi, Ahmad

حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ مُطَهَّرٍ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَلِيٍّ الرِّفَاعِيِّ، عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ النَّاجِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ كَبَّرَ، ثُمَّ يَقُولُ: «سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرَكَ» ، ثُمَّ يَقُولُ: «لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ» ثَلَاثًا، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا» ثَلَاثًا، «أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ» ، ثُمَّ يَقْرَأُ

“Abdussalam bin Muthahhir menuturkan kepadaku, Ja’far menuturkan kepadaku, dari Ali bin Ali Ar Rifa’i dari Abul Mutawakkil An Nahi dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika hendak shalat malam beliau membuka shalatnya dengan bertakbir, lalu mengucapkan /subhaakallahumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaaha ghairaka/, lalu mengucapkan /laa ilaaha illallah/ 3x, lalu mengucapkan allaahu akbar kabiiran 3x, lalu mengucapkan /a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi/, lalu baru membaca baca’an shalat”.

Sanad ini hasan, semua perawinya adalah perawi Shahih Muslim kecuali Ali bin Ali Ar Rifa’i, ia diperselisihkan statusnya, insya Allah yang rajih ia berstatus laa ba’sa bihi, sebagaimana kata Ibnu Hajar. Terdapat beberapa jalan lain yang menguatkan hadits ini hingga terangkat derajatnya menjadi shahih li ghairihi. Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi (252). Hadits ini menunjukkan bahwa isti’adzah diucapkan setelah membaca doa istiftah.

Kemudian, para ulama sepakat isti’adzah diucapkan pada raka’at pertama dalam shalat. Namun mereka berselisih apakah isti’adzah diucapkan pada raka’at setelahnya?

Sebagian ulama mengatakan tidak dianjurkan untuk diucapkan pada raka’at setelahnya, karena isti’adzah diucapkan sebelum qira’ah (membaca Al Qur’an) dan isti’adzah pada raka’at pertama sudah mencakup qira’ah pada seluruh shalat. Ini pendapat Hanafiyyah dan Hanabilah. Sebagian ulama berpendapat tetap dianjurkan mengucapkan isti’adzah pada setiap raka’at, karena ada pemisah antara qira’ah di satu raka’at dengan raka’at yang lain. Selain itu dianjurkannya isti’adzah pada raka’at setelahnya merupakan qiyas terhadap raka’at pertama. Ini pendapat Syafi’iyyah, Malikiyyah, dan pendapat yang shahih dari Imam Ahmad (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyah 4/13-14).

Pendapat yang kuat adalah dianjurkan isti’adzah sebelum membaca Al Fatihah di setiap rakaat, sebagaimana yang dikatakan Al Albani di Ashlu Shifati Shalatin Nabi (3/828) bahwa qira’ah yang dibaca pada raka’at yang lain itu sama dengan qira’ah pada raka’at pertama berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hadits al musi’ shalatuhu, setelah beliau mengajarkan bacaan qira’ah pada rakaat pertama beliau mengatakan:

ثم افعل ذلك في صلاتك كلها

lalu lakukanlah itu semua pada semua shalatmu” (HR. Bukhari-Muslim)

dalam riwayat lain:

في كل ركعة

dalam setiap rakaat

Bacaan Isti’adzah

Ada beberapa jenis baca’an isti’adzah :

Bacaan 1:

أَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

/a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim/

aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk

para ulama yang memilih bacaan ini, yaitu Imam Asy Syafi’i, Abu Hanifah, dan mayoritas qurra’. Mereka berdalil dengan ayat:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” (QS. An Nahl: 98)

adapun dalil dari hadist untuk lafadz ini, Syaikh Al Albani mengatakan: “adapun bacaan isti’adzah yang hanya /a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim/ saja, saya tidak menemukan satu hadits pun. Ya Allah..! Kecuali riwayat (mursal) yang ada dalam kitab Marasil Abu Daud, dari Al Hasan Al Bashri” (Ashlu Sifati Shalatin Nabi Lil Albani, 275).

Namun terdapat atsar dari Umar bin Khattab radhiallahu’anhu bahwa beliau biasa membaca lafadz ini. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2455),

حَدَّثَنَا حَفْصٌ ، عَنِ الْأَعْمَشِ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ ، عَنِ الْأَسْوَدِ ، قَالَ : افْتَتَحَ عُمَرُ الصَّلَاةَ ثُمَّ كَبَّرَ , ثُمَّ قَالَ : ” سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ “

“Hafsh menuturkan kepadaku, dari Al A’masy, dari Ibrahim, dari Al Aswad, ia berkata: Umar memulai shalatnya, kemudian bertakbir, lalu ia mengucapkan /subhaakallahumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaaha ghairaka/ lalu /a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim/ lalu /alhamdulillahi rabbil’alamin/

atsar ini shahih, semua perawinya tsiqah.

Bacaan 2:

أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ

/a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim/

aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari setan yang terkutuk

bacaan ini yang dipilih oleh Imam Ahmad, Al A’masy, Al Hasan bin Shalih, Nafi’ dan Ibnu ‘Umar. Bacaan ini terdapat dalam riwayat yang dikeluarkan Abdurrazaq dalam Mushannaf-nya (2554),

عَنْ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ , عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَلِيٍّ الرِّفَاعِيِّ , عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ النَّاجِيِّ , عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ , قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَاسْتَفْتَحَ صَلاتَهُ كَبَّرَ , ثُمَّ قَالَ : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ , تَبَارَكَ اسْمُكَ , وَتَعَالَى جَدُّكَ , وَلا إِلَهَ غَيْرُكَ , ثُمَّ يُهَلِّلُ ثَلاثًا وَيُكَبِّرُ ثَلاثًا , ثُمَّ يَقُولُ : أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “

Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Ali bin Ali Ar Rifa’i dari Abul Mutawakkil An Nahi dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata, biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika hendak shalat malam beliau membuka shalatnya dengan bertakbir, lalu mengucapkan subhaakallahumma wabihamdika wa tabaarakasmuka wa ta’aala jadduka wa laa ilaaha ghairaka, kemudian membaca tahlil 3x dan takbir 3x lalu mengucapkan a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim”.

Hadits ini shahih.

Bacaan 3:

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم؛ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِه

/a’uudzubillaahi minas syaithaanir rajiim wa hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi/

aku memohon perlindungan kepada Allah, dari setan yang terkutuk yaitu dari gangguannya, kesombongannya dan sya’irnya”

adapun makna al hamzu, an naftsu dan an nafkhu dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3828)

حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوَابِ، حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ رُزَيْقٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ ” كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْثِهِ، وَنَفْخِهِ ” قَالَ: ” وَهَمْزُهُ: الْمُوتَةُ، وَنَفْثُهُ: الشِّعْرُ، وَنَفْخُهُ: الْكِبْرِيَاءُ “

“Abul Jawab menuturkan kepadaku, ‘Ammar bin Ruzaiq menuturkan kepadaku, dari ‘Atha bin Sa-ib, dari Abu Abdirrahman, dari Abullah bin Mas’ud, dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau biasanya berta’awudz dari setan yang terkutuk yaitu dari al hamzu, an naftsu dan an nafkhu darinya. Lalu beliau bersabda: ‘al hamzu maksudnya mati karena gangguan setan, al nafats maksudnya sya’ir, an nafakh maksudnya kesombongan‘”

Hadits ini hasan, sebagaimana pendapat Syaikh Ahmad Syaikir dalam ta’liq beliau untuk Musnad Ahmad (5/318).

Bacaan 4:

أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ من هَمْزِه، ونَفْخِه، ونَفْثِه

/ a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsihi/

aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari setan yang terkutuk yaitu dari gangguannya, kesombongannya dan sya’irnya”

dalil lafadz ini sebagaimana hadits Abu Daud, Tirmidzi, dan Ahmad dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu yang sudah dibahas.

Bacaan 5:

أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

/a’uudzubillaahis samii’il ‘aliimi minas syaithaanir rajiim, innahu huwas samii’ul’alim/

bacaan ini adalah sebagaimana bacaan nomor 2, namun sebagian salaf memberikan tambahan lafadz:

إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui

yang membaca lafadz ini diantaranya Sufyan Ats Tsauri rahimahullah dan juga salah satu bacaan Imam Ahmad bin Hambal (Sifatu Shalatin Nabi Litharifi, hal 78). Mereka berdalil dengan ayat:

فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Fushilat: 36).

Bacaan 6:

أَسْتَعِيْذُ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

/asta’iidzu billahi minas syaithaanirrajiim/

aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk

diantaranya para salaf yang membaca demikian Ibnu Sirin rahimahullah (Sifatu Shalatin Nabi Litharifi, hal 78). Beliau berdalil dengan ayat:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاَللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk” (QS. An Nahl: 98)

Lafadz-lafadz di atas boleh digunakan sebagai isti’adzah ketika shalat walaupun sebagiannya tidak didasari dalil yang sharih, namun para salaf pernah menggunakannya. Syaikh Abdul ‘Aziz Ath Tharifi setelah menyebut beberapa lafadz, beliau mengatakan: “setiap lafadz tersebut terdapat atsar-nya, dan dalam masalah ini terdapat kelonggaran insya Allah” (Sifatu Shalatin Nabi Litharifi, hal 79). Namun tentu yang menjadi praktek Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam itu lebih sesuai sunnah.

Isti’adzah Dibaca Sirr atau Jahr?

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat tidak menjahrkan (mengeraskan) bacaan isti’adzah, sehingga jika hal ini dilakukan dapat terjerumus dalam perbuatan bid’ah. Kecuali jika ada kebutuhan, misalnya dalam rangka mengajarkan orang-orang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya mengenai seseorang yang menjadi imam kemudian setelah takbir ia mengeraskan bacaan ta’awwudz kemudian membaca basmalah lalu membaca Al Fatihah, ia melakukan demikian secara rutin pada setiap shalat. Beliau rahimahullah menjawab: “jika ia melakukannya hanya kadang-kadang dalam rangka mengajarkan orang-orang atau kebutuhan lainnya maka tidak mengapa. Sebagaimana Umar bin Khattab beliau mengeraskan bacaan doa istiftah sesekali. Juga sebagaimana Ibnu Umar dan Abu Hurairah mereka mengeraskan bacaan isti’adzah sesekali. Adapun melakukannya secara ruitn maka ini bid’ah dan menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam serta para Khulafa Ar Rasyidin. Mereka tidak menjahrkan (mengeraskan) bacaan isti’adzah secara rutin, bahkan sama sekali tidak ada riwayat yang dinukil dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau pernah mengeraskan bacaan isti’adzah. Wallahu’alam” (Majmu’ Fatawa, 22/405).

Penulis: Yulian Purnama

Muraja’ah: Ust. Aris Munandar, Ss., MPi.

Artikel Muslim.Or.Id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s